Apa Itu Kebudayaan?

Kebudayaan dimengerti sebagai ‘verwerkingvan de natuur’  atau apa yang disebut’pengolahan alam’ yang dalam bahasa Inggris disebut ‘culture’ dari kata dasar colereyakni ‘mengerjakan tanah,mengolah, memelihara ladang’. Maka timbul istilah agriculture artinya pengolahan tanah, pertanian. Pengertian’agraris’ kemudian dikaitkan pada segala sesuatu yang bersifat rohani ‘cultura animi phillosophia est’ atau ‘la culture des bonnes lettres, de beauxarts’.

Langeveld menuturkan bahwa culture(kebudayaan) merupakan ‘de aktieve verwerklijkingvan waarden’. P.J.Zoetmulder menyatakan bahwa kebudayaan merupakanperkembangan segala kemungkinan dengan kekuatan kodrat dalam diri manusiadengan pembinaan akal budi.[2]Kebudayaan mencakup seluruh dinamika dan realisasinya menuju kepadakesempurnaan atau kedewasaan manusia; hakekatnya kebudayaan adalah cara hiduptertentu yang memancar-kan identitas tertentu dari suatu bangsa manusia.Meskipun pada dasarnya kebudayaan juga dapat diterjemahkan sebagai hasil ciptapribadi tetapi itupun dan hanya dimungkinkan menemukan karya-karya orisinilnyadalam rangka kemasyarakatan ‘the cultureis a common way of life’ .

Manusia adalah sumber kebudayaan, dalam pengertian seluas-luasnya berkisarmanusia sebagai  faktor sentralkebudayaan, mencakup segenap kemajuan dan perkembangan dan individu/kelompokmasyarakat tidak hanya melibatkan bidang sastra dan seni, melainkan jugahasil-hasil bidang ekonomi, teknik, sosial, dan lainlainnya. Termasuk ide dannilai dalam diri manusia dan yang di-ungkapkan dalam kehidupan seperti tatalembaga, tata peraturan, peralatan yang dihasilkan manusia. Maka kebudayaan merupakanhasil bersama dimana masing-masing individu dibentuk dan berkembang menjadiseorang pribadi di dalam suatu masyarakat. Oleh karena itu suatu kebudayaansecara langsung melibatkan banyak generasi sebagai pendukung pengembangannya. Bahkanhakekat kebudayaan adalah sumber orientasi nilai-nilai etis manusia,  proses peningkatan hidup yang bersifathumanisasi.

Wujud suatu kebudayaan, secarauniversal mencakupi tiga pokok utama:

  1. sistem budaya (cultural system)  meliputi gagasan, pikiran, konsep,nilai-nilai budaya, norma-norma, pandangan-pandangan dan lainnya, yangbentuknya abstrak, berlokasi dalam kepala pemangku atau pendukung kebudayaanyang bersangkutan;
  2. sistem sosial (social system)meliputi aktivitas,  tindakan/tingkahlaku berpola, perilaku, upacra-upacara dengan ritus-ritus, yang wujudnya  lebih konkrit dan dapat dilihat sertadiamati;
  3. kebudayaan  materi (material culture) meliputi wujud benda(artefak) merupakan hasil tingkah laku dan karya para pemangku kebudayaan.

Tiga wujud kebudayaan tersebut merupakan sistem-sistem yang antara satu danyang lainnya berkaitan erat. Di dalam hal ini sistem budaya yang paling abstrak’seakan-akan’ berada di atas mengatur sistem sosial yang lebih konkrit;sedangkan aktivitas sistem sosial yang menghasilkan kebudayaan materialnya itu.Sebaliknya, sistem yang berada di bawahnya dan yang bersifat lebih konkrit itumemberi energi kepada yang berada di atasnya.

Menurut para ahli secara universal isi dari semua kebudayaan di dunia baiklingkungan kebudayaan komunitas masyarakat kecil, yang sederhana dan yang terisolasisekalipun, maupun kebudayaan besar, kompleks dan maju dapat dipastikan mengandungtujuh unsur budaya yang berlangsung di dalam sistem kehidupannya:

  1. sistem pengetahuan melek baca (bahasa) – tulis  (aksara) (data tekstual)
  2. sistem pengetahuan teknologi (arsitektur, irigasi, navigasi)
  3. sistem pengetahuan ekonomi/mata pencaharian (pajak perdagangan, bumi)
  4. sistem pengetahuan organisasi sosial (sosial, politik pemerintahan>  tatanan masyarakat; hierarkisbirokratis
  5. sistem pengetahuan kesenian (arts and art history)
  6. sistem pengetahuan keagamaan
  7. sistem ILMU PENGETAHUAN

Keselarasan dengan pernyataan E.K.M. Masinambow (1995) bahwa yang dimaksud sumberdaya budaya, di satu pihak berkaitan dengankebudayaan material maupun non material; dan pada pihak yang lain mengacu padapotensi memberikan motivasi terhadap kelangsungan kehidupan yang utuh ataukekuatan yang mendorong perwujudan perilaku dan tindakan sosial. Melalui datayang bersifat kontekstual yang kemudian ditunjang oleh data tekstual informasiyang diperoleh dapat lebih rinci dan saling melengkapi sehingga dapatdikembangkan sebagai model dan diterapkan pada data yang independen.

Kebudayaan disoroti sebagai kebudayaan materi ataumaterial terdiri dari semua hal yangberkaitan dengan istilah ‘artefak’ termasukmedia mengandung tulisan dan gambar seperti ‘rontal’ perkamen, batu, kayu, bahanrekaman elektro magnetis, elektronis maupun istilah perilaku (tindakan berpola);kebudayaan non-material terdiri dari  segala sesuatu yang terdapat dalam diri individu/kelompokmasyarakat berupa konfigurasi pengetahuan, perasaan, dan kemauan yang dihayatibersama. Maka selalu akan terjadi hubungan timbal balik konfigurasi material(artefak) dan non material (perilaku) yang disebut “makna”.

Dilihat dari proses pembentukannya budaya materi (artefak)dan non materi (perilaku) memperoleh jenis wujudnya atas dasar konfigurasi,sebaliknya  pula eksistensi dari jenisartefak dan pola perilaku membentuk dan memperkuat (reinforce) konfigurasi tersebut. Karena pada dasarnya manusia secaraaktif selalu menginterpretasikan pengalamannya dengan cara memberi makna terhadapapa pun yang dilihatnya. Dunia manusia merupakan dunia sosial dan historissehingga memerlukan pengertian sebagaimana masyarakat ketika pelakunya hidupdan bekerja, mengartikannya. Dunia manusia bukanlah dunia yang tetap sehinggadapat dikaji secara obyektif. Atas dasar itu pula maka interpretasi merupakanproses kegiatan kreatif  dalam upaya gunamengungkap dan menampilkan makna dari berbagai kemungkinan makna.

Dalam kesatuannya sebagai makna, budaya materi(artefak) dan budaya non material (gagasan ataupun perilaku) kebudayan Majapahitditampilkan berdasarkan warisan aktivitas budaya yang ditinggalkan dan berhasilditemu-kenali. Warisan aktivitas budaya dalam wujud telah menjadi record  masa lalu berupa tulisan, foklor, ataupunartefak. Record dengan keadaannyasekarang dan tidak bisa lagi diketahui maksud dari pencipta atau pemangkubudaya tersebut karena mereka sudah meninggal, maka tidak jarang record berupa tinggalan budaya itu ditemukansama sekali berbeda dari kebudayaan yang sedang berlangsung sekarang.

Di satu sisi kebudayaan materi berada diantara  masa lampau dan masa kini dan berpotensi untuk dipolakan ke dalam banyak kemungkinan tanpa dapat diduga sebelumnya; di sisilain, kebudayaan materi merupakan produk dari yang tertanam di dalam pengalamaninternal. Maka itu beberapa dari  kebudayaan materi yang karena tidakterutarakan sehingga merupakan self-consciousspeech yang justru dapat memberikan insight lebih dalam tentang maknainternal dari orang yang menjalani kehidupan di masa kebudayaan materi itu masihberfungsi.

Kebudayaan materi yang sesungguhnya pulamerupakan produk kegiatan sosial, implikasinya kebudayaan yang mendorong ataumelatari terjadinya kegiatan kebudayaan tersebut tidak dapat secara langsungdiamati atau terlihat hanya atau atas dasar kebudayaan materi.

Dengan demikianterjadi jarak antara kebudayaan materi sebagai perwujudan kegiatan sosialdan  gagasan (ide) yang melatari wujud tersebut. Jarak (pemisah) antara wujud dengan gagasan itu menjadi lebih nyatadalam Arkeologi tatkala berhadapan dengan kebudayaan yang telah punah (historical culture). Jarak pemisah inilah yang berada pada tataran (aspek) dimensi waktu yang sekaligus memisahkan kebudayaan yang diteliti dengan penelitinya. Jarak lainnya adalah kebudayaan antara keduanya yaitu kebudayaan yang diteliti yang disamping telah punah danjuga berbeda dengan kebudayaan peneliti.]Akibat dari kepunahan suatu kebudayaan maka turut punah pula gagasan yangmelatari penciptaan wujud kebudayaan materi itu.

[1]AL.Kroeberand C.Kluckhohn, Culture, a CriticalReview of Concepts and Definitions. Cambridge University. Massassuchettes1952.

[2]PJ.Zoetmulder, Cultuur Oost en West.Amsterdam: van der Peet. 1951:14: “…Cultuur … is de door Redelijke Mens Geleide Ontwikkeling van Mogenlijkhedenen Krachten der Natuur, Vooral der Menselijke Natuur, Nodat ze een HarmonischGeheel Vormen…”

[3]Christopher Dowson, The Age of  God. London. 1928, XIII (cf., Zoetmulder1951).

[4]Soerjanto Poespowadojo, StrategiKebudayaan: Suatu Pendekatan Filosofis. Diterbitkan atas Kerjasama denganLPSP (Lembaga Pengkajian Strategi dan Pembangunan). Penerbit PT.Gramedia,Jakarta. 1989.

[5] J.J.Honingmann  The World of Man, New York: Harper & Brothers. 1959 .

[6]C.Kluckhohn”Universal  Catagories of  Culture’ AL.Kroeber (editor), Anthropology Today. Chicago UniversityPress. 1953:507-523.

[7]EKM.Masinambow (1995)”Sumberdaya Budaya dan MasalahPengelolaannya” Makalah dalam SeminarNasional Metodologi Riset Arkeologi, Depok 23-24 Januari 1995. JurusanArkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia ((Makalah lepas).

[8] Selengkapnya dapat dilihat pada Ian Hodder (ed.),”Theoritical Archaeology: A Reactionary View” dalam Symbolic And Structural Archaelogy. 1982. Cambridge: CambridgeUniversity Press.

[9]Noerhadi Magetsari, “Metode Penelitian Agama DalamArkeologi”, mkalah di dalam SeminarNasional Metodologi Riset Arkeologi, Jurusan Arkeologi Fakultas SastraUniversitas Indonesia, Depok 23-24 Januari 1995 (Makalah Lepas).

“RKK”

2 Komentar (+add yours?)

  1. galuhkiwari
    Agu 23, 2010 @ 15:10:56

    Bagus Sekali Artikelnya menambah wawasan. salam dari galuhkiwari.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: